Gunung Lembu : Perjalanan Menuju Ke Sebuah Puncak Batu. (part 3)

Kota Taman Pertama di Indonesia konon katanya adalah kawasan Menteng yang berada di Jakarta Pusat menurut tulisan milik Adolf J. Heuken, S.J. dan Grace Pamungkas. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Kebayoran Baru, Jakarta Selatan adalah Kota Taman pertama di Indonesia yang dirancang oleh arsitek lokal Moh. Soesilo. 

DCIM102MEDIA

Saat kami menuju ke ke Stasiun BEOS, kami dipertemukan dengan taman kota yang berada di jalan bawah tanah penghubung sisi museum dan sisi stasiun. Dari tempat ini kami hanya perlu menaiki tangga menuju ke Stasiun Jakarta Kota. Beberapa pedagang dan fasilitas umum terlihat di sekitar taman ini. Mungkin memang sengaja dibuat untuk menjadi persinggahan bagi para pengunjung Kota Tua Jakarta yang menggunakan transportasi umum.

DCIM102MEDIA

Segera setelah tiba di stasiun, kami pun menuju ke kereta api kelas ekonomi yang akan membawa kami menuju ke Kota Purwakarta. Kereta dengan susunan bangku penumpang 3-2 ini akan menempuh perjalanan selama 2,5 – 3 jam. Pada saat perjalanan ini dilakukan stasiun keberangkatan awalnya berada di Stasiun Jakarta Kota, tetapi sejak Februari 2017 kereta ini berangkat dari Stasiun Tanjung Priok.

DCIM102MEDIA

Akhirnya setelah melewati perjalanan antar kota kami pun tiba di sini, Stasiun Purwakarta. Selanjutnya kami akan menuju ke pos pendakian Gunung Lembu yang berada di Kp. Panunggal RT. 006 RW. 003 Desa Panyindangan Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Namun, sebelum pergi ke sana dengan menggunakan transportasi umum kami akan mengisi perut dan istirahat terlebih dahulu.

Advertisements

Gunung Lembu : Perjalanan Menuju Ke Sebuah Puncak Batu. (part 2)

ydxj0068

DKI Jakarta,

Konon kertas pertama kali dibuat di Indonesia dari bahan kulit kayu yang ada di daerah Ponorogo sekitar abad 7 Masehi. Seharusnya tiket kereta menuju ke purwakarta yang terbuat dari kertas juga sudah aku pegang saat ini. Namun, apa dayaku sekarang karena loket yang menjual tiket kereta itu baru akan menerima pembelian dalam kurun waktu 4 jam lagi dari sekarang. Akhirnya aku pun berjalan ke luar Stasiun Jakarta Kota dan menuju ke tempat di mana rekan seperjalananku menunggu. Setelah berbincang tentang keterlambatan KRL memasuki stasiun yang menjadi penyebab gagalnya perjalanan menuju Purwakarta pada pagi tadi, kami pun sepakat untuk menjelajahi Kota Tua sambil menunggu loket penjualan tiket kereta buka kembali.

YDXJ0074.jpg

Tujuan kami saat itu adalah Museum Bank Mandiri, yang ternyata berada di dalam sebuah bangunan peninggalan Belanda. Pada awalnya sebelum menjadi museum tempat ini adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda. Lambat laun berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) dinasionalisasi pada tahun 1960 dan menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) untuk urusan Ekspor-Impor. Kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) pada 31 Desember 1968, gedung tersebut pun beralih fungsi menjadi kantor pusat Bank Export import (Bank Exim), hingga akhirnya legal merger Bank Exim bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999), maka gedung tersebut pun menjadi asset milik Bank Mandiri.

YDXJ0061.jpg

Beberapa ruangan tampak menarik bagi kami, mulai dari jendela kaca yang berwarna warni di lantai atas gedung, kumpulan mesin ketik yang menempel di dinding museum, komputer yang beraneka ragam sesuai zaman, diorama kegiatan perbankan yang ada pada masa kolonial, dan ada satu ruangan yang menarik perhatian kami karena terdapat lambing burung garuda besar pada dindingnya lengkap dengan meja, kursi, serta foto-foto figur yang pernah menjabat. Kami pun menjelajahi setiap ruangan yang ada di sana. Niat kami yang tadinya hanya akan singah sebentar saja, berubah menjadi lebih lama karena ternyata banyak hal baru yang kami temukan di sini.

YDXJ0065.jpg

Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu hingga 2 jam lebih di dalam museum ini. Sekarang saatnya kami untuk pergi kembali menuju ke Stasiun Jakarta Kota. Dalam beberapa jam lagi loket yang menjual tiket kereta akan segera dibuka. Antrian penumpang yang hendak membeli tiket tentu akan menjadi lebih panjang disbanding beberapa jam yang lalu karena ini adalah kereta terakhir pada hari ini yang dapat membawa kami menuju ke Stasiun Kota Purwakarta. Belum lagi kami harus mencari perbekalan untuk mengganjal perut sebelum melakukan perjalanan antar kota yang tentunya akan berdurasi 2-3 jam.

YDXJ0066.jpg

Kami pun berjalan kaki meninggalkan bangunan tua ini menuju Stasiun Jakarta Kota.

Images & Informations : Koleksi Pribadi, Samsung I9500 Galaxy, Xiaomi Yi

Location : Museum Bank Mandiri, Kota Tua, Jakarta

 

Gunung Lembu : Perjalanan Menuju Ke Sebuah Puncak Batu.

gunung-lembu

Apis cerana,

sering kali disebut oleh kebanyakan orang sebagai lebah lokal. Saat ini aku sedang membayangkan sekawanan Apis cerana atau lebah lokal yang sedang berkerumun di salah satu bagian Jakarta. Pagi hari ini Stasiun Kota Jakarta sudah sangat ramai, setiap orang seolah sudah mempunyai agendanya masing-masing. Kecuali aku yang sedari tadi mengutuki diri sendiri menyesali pilihan yang sudah aku buat saat tiba di Stasiun KRL Pasar Minggu. Semua cerita ini berawal dari KRL yang sudah mengantarku untuk menuju salah satu stasiun tertua di Kota Jakarta mengalami hambatan. Kasus klasik, keterlambatan kereta yang disebabkan oleh antrian KRL ketika akan memasuki Stasiun Manggarai. Entah mengapa hal itu pun terulang lagi ketika akan memasuki Stasiun Jayakarta. Hal ini yang akhirnya membuatku harus rela menyaksikan kereta api yang akan membawa setiap penumpang menuju ke Kota Purwakarta lewat begitu saja di depan mataku.

Continue reading

Travel Guide : Perjalanan Menuju Pantai Sawarna

sunset

Kota Lebak yang berada di wilayah Banten sebenarnya memiliki potensi wisata yang masih bisa digali sampai saat ini. Lokasinya yang berada di wilayah pesisir pantai selatan, serta kombinasi antara perbukitan dan pantai membuat tempat ini layak untuk dikunjungi. Untuk menuju ke sana sebenarnya sangatlah mudah namun terkadang kendalanya adalah kurangnya informasi atau kurangnya keinginan kita sendiri untuk mencari tau berbagai cara untuk sampai ke sana. Padahal wilayah tersebut telah siap sedia menawarkan berbagai pesonanya. Kali ini daerah yang saya datangi adalah Pantai Sawarna. Continue reading

Sawarna : Kapan Kita Ke Mana? (Part 3)

sawarna 3

“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” – Ibn Battuta

“To awaken alone in a strange town is one of the pleasantest sensations in the world.” – Freya Stark

Tak ada satu kata pun yang dapat saya ucapkan pada awalnya, hanya bisa terkesima oleh setiap pemandangan yang ada di sana. Hingga akhirnya seseorang datang menghampiri saya, dan dia membuat saya akhirnya bersuara. Dia membuat saya bercerita bagaimana perjalanan saya bermula hingga akhirnya bisa tiba di desanya. Continue reading

Sawarna : Kapan Kita Ke Mana? (Part 2)

sawarna2

“Sometimes it is not about the journey or the destination, but about the people you meet along the way.” Sebuah kalimat yang dicetuskan oleh Nishan Panwar terasa sangat mengena dalam perjalananku kali ini.

Terkadang aku mengkhawatirkan tentang keamanan ketika melakukan sebuah perjalanan. Apakah orang lokal di tempat yang aku tuju baik semua, atau jangan-jangan banyak bahaya yang mengincarku di sana. Saat berada di atas Bus MGI ini aku pikiranku selalu disusupi oleh kekhawatiran tersebut. Belum lagi banyaknya cerita miring yang mengatakan bahwa daerah Pantai Selatan itu cukup kuat black magic-nya. Namun, semua kekhawatiran itu sirna tepat ketika seorang pemuda yang baru naik bus duduk di sebelahku, dan mulai bercerita tentang indah dan amannya Pantai Selatan.

Continue reading

Sawarna : Kapan Kita Ke Mana? (Part 1)

2

Taraxacum officinale, atau mungkin lebih kau kenal dengan sebutan dandelion seolah mengajarkanku untuk berserah diri, bukan karna kalah, bukan pula untuk mengalah. Hanya saja membiarkan dirinya untuk memilih jalan yang ia lalui bukan berdasarkan keinginannya, tapi yang ia tahu pasti tujuan akhirnya akan sesuai dengan yang ia butuhkan, menyatu dengan sang Bumi.

Karena mungkin saja apa yang kita inginkan tidak selalu datang tepat pada waktunya. Seperti sebuah jatah cutiku beberapa waktu lalu.

……….

Continue reading

Travel Guide : Perjalanan Menuju Papandayan

travel guide

Kota Garut sering kali disebut juga sebagai Swiss van Java, selain karena hawanya yang dingin dan dikelilingi oleh pegunungan di kota ini juga banyak terdapat tempat wisata yang mempunyai berbagai macam karakterisktiknya sendiri-sendiri. Untuk menuju ke sana sebenarnya sangatlah mudah namun terkadang kendalanya adalah kurangnya informasi atau kurangnya keinginan kita sendiri untuk mencari tau berbagai cara untuk sampai ke sana. Padahal wilayah tersebut telah siap sedia menawarkan berbagai pesonanya. Kali ini daerah yang saya datangi adalah Gunung Papandayan.

Jika kita berdomisili di dalam atau di luar kota Jakarta, terdapat beberapa cara untuk mencapai Pulau Tidung.

  • Mengikuti Open Trip yang sering dibuka oleh penyedia jasa perjalanan, total biaya yang dikeluarkan bisa lebih murah daripada kita pergi sendiri. Namun kekrangannya kita akan terikat oleh jadwal yang diberikan oleh pemandu.
  • Melakukan perjalanan sendiri, tipe ini sangat cocok untuk kita yang lebih ingin bebas dalam bepergian. Namun, biaya yang dikeluarkan bisa lebih mahal tergantung jumlah orang yang ada.
    • Perjalanan sendiri dapat dilakukan dengan mengendarai Bus, Mobil, atau Sepeda Motor

Terdapat beberapa Terminal Bus yang ada di Kota Jakarta yang menyediakan transportasi umum untuk ke sana, yaitu :

  • Terminal Kampung Rambutan
    • Menaiki Transjakarta Busway hingga ke Terminal Kampung Rambutan, dengan biaya Rp 3.500
    • Dari terminal ini kita bisa menaiki Bus AKAP (antar kota antar propinsi) menuju ke Terminal Bus Guntur, Garut dengan harga tiket berkisar antara RP 50.000 – 60.000
  • Terminal Tanah Abang
    • Menaiki Transjakarta Busway hingga ke Terminal Tanah Abang, dengan biaya Rp 3.500
    • Dari terminal ini kita bisa menaiki Bus AKAP (antar kota antar propinsi) menuju ke Terminal Bus Guntur, Garut dengan harga tiket berkisar antara RP 50.000 – 60.000
  • Terminal Lebak Bulus
    • Menaiki Transjakarta Busway hingga ke Terminal Lebak Bulus, dengan biaya Rp 3.500
    • Dari terminal ini kita bisa menaiki Bus AKAP (antar kota antar propinsi) menuju ke Terminal Bus Guntur, Garut dengan harga tiket berkisar antara RP 50.000 – 60.000
  • Terminal Kali Deres
    • Menaiki Transjakarta Busway hingga ke Terminal Tanah Abang, dengan biaya Rp 3.500
    • Dari terminal ini kita bisa menaiki Bus AKAP (antar kota antar propinsi) menuju ke Terminal Bus Guntur, Garut dengan harga tiket berkisar antara RP 50.000 – 60.000
  • Terminal / Pool Bus Cililitan
    • Menaiki Transjakarta Busway hingga ke Cililitan, dengan biaya Rp 3.500
    • Dari terminal ini kita bisa menaiki Bus AKAP (antar kota antar propinsi) menuju ke Terminal Bus Guntur, Garut dengan harga tiket berkisar antara RP 50.000 – 60.000

Setelah tiba di Terminal Guntur Garut, kita dapat menaiki angkutan umum yang terdapat di area terminal. Ada beberapa jenis angkutan yang menuju ke arah Gunung Papandayan, yaitu :

  • Angkutan Umum
    • Angkutan ini bertrayek Terminal Guntur Garut – Samarang, kita bisa berhenti di Desa Cisurupan tepat di depan pintu gerbang / gapura menuju Camp David, Papandayan.
  • Angkutan Carteran / Sewa
    • Angkutan ini memang khusus mendedikasikan dirinya untuk mengantar para pendaki hingga menuju ke Desa Cisurupan tepat di depan pintu gerbang / gapura menuju Camp David, Papandayan. Dengan biaya berkisar antara Rp 15.000 – 20.000 dan baru akan berjalan bila mobil telah diisi oleh 5 orang atau lebih.

Setelah tiba di Desa Cisurupan, kita masih harus melanjutkan perjalanan untuk menuju camp david, yaitu pos pertama pendakian Gunung Papandayan. Ada beberapa jenis angkutan yang menuju ke sana, yaitu :

  • Angkutan Umum Bak Terbuka
    • Angkutan ini bertrayek Desa Cisurupan (Gapura Papandayan) – Camp David, para pengelola angkutan ini memberikan tarif antara Rp 15.000 – 20.000 dan baru akan berjalan bila mobil telah diisi oleh 5 orang atau lebih. Jika kelompok pendaki kurang dari 5 orang maka akan lebih disarankan untuk menggunakan moda transportasi ojek.
  • Ojek
    • Angkutan ini memang khusus mendedikasikan dirinya untuk mengantar para pendaki hingga menuju ke Camp David. Dengan biaya yang ditawarkan berkisar antara Rp 35.000 – 40.000.

Jika kita menggunakan kendaraan pribadi roda empat dari Jakarta, kita bisa menyusuri rute berikut ini :

  • Bawalah kendaraan anda menuju Jalan Bebas Hambatan / Tol Cikampek
  • Kemudian lanjutkan ke arah Tol Cipularang
  • Keluar di Gerbang Tol Cileunyi dan dilanjutkan berjalan ke arah Nagrek
  • Kemudian menuju Kota Garut dan mengambil rute ke arah Samarang, Desa Cisurupan.
  • Lajutkan perjalanan menuju ke Camp David, Papandayan dan di sana kita dapat memarkir kendaraan kita di area parkir yang ada.

Jika kita menggunakan kendaraan pribadi roda dua dari Jakarta, kita bisa menyusuri rute berikut ini :

  • Bawalah kendaraan anda menuju Jalan Raya Kalimalang, Jalan Raya Jonggol, atau Jalan Raya Puncak
  • Kemudian lanjutkan ke arah Bandung
  • Arahkan kendaraan anda menuju ke Cileunyi dan dilanjutkan berjalan ke arah Nagrek
  • Kemudian menuju Kota Garut dan mengambil rute ke arah Samarang, Desa Cisurupan.
  • Lajutkan perjalanan menuju ke Camp David, Papandayan dan di sana kita dapat memarkir kendaraan kita di area parkir yang ada.
Camp David

Camp David

Sesampainya di Camp David kita diharuskan melaporkan rencana kegiatan dan anggota kelompok kita yang akan memasuki area Papandayan.

Jika kita hendak berkemah di Goberhood / Pondok Salada, kita juga diharuskan untuk mengisi buku daftar hadir yang ada di Pos 2 pendakian yang terletak di area Goberhood.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di Papandayan :

  • Mandi air panas di pemandian alami Papandayan
  • Kemah / Camping ceria di bumi perkemahan Camp David, Goberhood, Pondok Salada.

pondok saladah

  • Menjelajahi Kawah Papandayan yang masih aktif
menuju kawah papandayan

Menuju Kawah Papandayan

6

  • Hiking hingga ke Padang Pohon Edelweiss, Anaphalis javanica di Tegal Alun atau melanjutkan pendakian hingga ke Puncak.

tegal alun

Disarankan untuk membawa bekal makanan dan minuman untuk menghemat pengeluaran serta untuk mengganjal perut selama di perjalanan di atas kapal. Bagi yang punya masalah mabuk laut, disarankan untuk membawa obat anti mabuk.

Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan cerita saya yang berbentuk novel / cerpen / cerbung pada postingan-postingan sebelumnya. Semoga ini semua menjadi langkah baik untuk memulai kenginan saya untuk dapat aktif berbagi pengalaman dalam bentuk cerita dan dilanjutkan dengan bentuk laporan perjalanan.

Jakarta selatan,

Suatu pagi yang cerah di hari Minggu.

Images & Informations : Koleksi Pribadi, Samsung I9500 Galaxy, transportinfo.web.id, etc.

Location : Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat.

Gunung Papandayan : Setiap Perjalanan Pulang, Selalu Menghasilkan Memori Untuk Dikenang (4/4)

Papandayan 3

Garut,

Senin sore, saat langit sedang menumpahkan segala fluidanya yang berupa cairan dan gas, mereka diramu menjadi satu.

Kesempatan kami untuk menikmati indahnya Tegal Alun tampaknya juga harus segera diakhiri. Kami lihat dari jauh, cuaca sudah tak bersahabat, pekat kabut yang semakin mendekat seolah memberitakan bahwa sebentar lagi proses siklus air yang menguap menjadi gas akan segera menjadi air kembali di tempat ini. Namun kami masih ragu, apakah ini hanya akan berlangsung sesaat atau terus-menerus. Bersama akhirnya kami putuskan untuk menunggu terlebih dahulu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kawan, pernahkah kamu merasakan bagaimana rasanya berada di dalam awan yang ada di atas gunung? Gumpalan putih yang jika dilihat dari kejauhan seperti gumpalan gula-gula kapas itu menerpa dan mengurung kami dengan wujudnya yang berupa butiran-butiran air. Awalnya semua tak berlangsung lama. Hanya rintik hujan kabut kecil yang kami rasa. Kabut pekat itu pun berlalu begitu saja melewati kami. Setelah merasa aman karena sudah tak terusik olehnya lagi kami pun melanjutkan menikmati alam di dataran tinggi ini.

tegal alun kabut

Namun ternyata semua hanya sementara, gumpalan kabut yang lebih pekat segera datang kembali ke arah kami. Kali ini ia tak hanya menumpang lewat, tapi benar-benar menumpahkan cairannya. Seketika dataran luas Tegal Alun pun dibasahi oleh air yang terus-menerus turun. Panik, kami pun segera mengemasi perbekalan kami. Tak lupa jas hujan ataujket anti air segera kami kenakan sambil melihat sekeliling kami. Ternyata hanya ada kami bertiga di sini, segera kami pun berlari meninggalkan tempat yang indah ini.

Papan bertuliskan Tegal Alun pun kami lewati, kini di hadapan kami adalah turunan mamang yang saat naik tadi bernama tanjakan mamang. Bedanya, kali ini kami harus berpacu dengan waktu untuk menuruninya. Karena di belakang kami aliran air semakin deras mengejar kami untuk ikut mngalir ke bawah, dataran yang lebih rendah. Kami pun menuruninya dengan berlari, tak sempat menoleh ke belakang maupun kanan dan kiri. Tujuan kami kali ini hanya satu, secepatnya menuju hutan mati.

hutan mati

Tak dapat aku hindari beberapa kali aku harus jatuh dan merosot ketika menyusuri jalan setapak yang menurun ini. Setelah berjalan agak lama, tak pernah aku rasakan sebahagia ini bertemu dengan pohon-pohon yang tampak bagaikan sudah mati. Kini kami telah tiba di Hutan Mati, seolah semua sedang menyapa dalam sepi, beberapa pendaki terlihat sedang mencari saung tempat untuk bernaung. Kini aliran air sudah tak mengejar kami, tapi kami tetap harus bergegas untuk segera menuju ke Pondok Salada menyiapkan kemah kami kembali agar bisa kami tiduri ketika malam nanti.

Cuaca yang mendung dan gelap ditambah dengan kabut yang berlomba untuk menjadi selimut membuat jarak pandang kami menjadi bias. Jalur yang kami lewati sebelumnya seolah tersamarkan oleh derasnya hujan yang turun. Semua yang ada di sekitar kami tampak sama, pohon mati. Terpaksa harus ku tunda kegembiraan ku ketika berjumpa lagi dengan hutan mati tadi. Berjalan pelan sambil mengingat dan mencoba jalur ternyata membuahkan hasil yang bisa dibilang mujur.

hutan mati

Kini kami dapat melihat Pondok Salada dari kejauhan, posisi kami dari tempat itu hanya dibatasi oleh tanah berlumpur yang terendam air. Segera kami seberangi tanah berlumpur itu tanpa peduli mana yang dangkal atau yang dalam. Setelah bersusah payah, tibalah kami di dekat tenda kami sambil terengah-engah. Ku copot jaket dan celana ku, karena seketika hujan pun berhenti seolah cukup bagi ia untuk mengantarkan kami dari atas hingga ke perkemahan ini. Ku jemur semua yang melekat dan basah di tubuh ku sambil hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek dilapis dengan kain sarung.

Bodohnya aku tak membawa jaket atau pun celana hangat lain, hingga aku harus mencoba melawan dingin hingga akhirnya senja datang dan berganti dengan sang malam. Namun, sangat disayangkan pesona malam ini belum dapat menggugah ku. Bintang indah yang ku harapkan menghiasi langit malam tak dapat ku nikmati karena awan mendung masih bernaung di atas sana. Terpaksa aku isi malam ini dengan berkumpul bersama kawan sambil memasak air hangat dan menyeduh cangkir kopi ku agar badan bisa terasa lebih hangat. Cerita pun mengalir begitu saja bergantian oleh kami, dari kami, untuk kami. Hingga kantuk pun datang dan kami pun masuk ke dalan tenda untuk memejamkan mata.

Namun, sulit rasanya untuk memejamkan mata, ketika aku kembali membayangkan apa yang sudah aku lalui dalam satu hari ini. Hingga bayangan ku pun sudah berganti menjadi mimpi tanpa kusadari, yang kuingat hanya hujan yang turun lagi ketika kesadaran ku yang terakhir masih menguasai otak ini. Mimpi yang ku alami membuat ku membuka mata dan segar seketika, ku dengar hujan sudah berheti sedari tadi. Ku lihat sekitar dan tampak teman-teman ku masih tertidur pulas. Aku tak bisa berdiam di dalam tenda, lalu ku putuskan untuk keluar dan berharap bahwa hujan sudah benar-benar berhenti.

Aku buka pintu tenda yang ada di hadapan ku dan semua tampak gelap, hanya beberapa tenda yang berwarna cerah yang dapat kulihat di kejauhan. Ku ambil senter untuk menerangi sekitarku, refleks ku lihat ke arah langit saat seluruh tubuh ku sudah keluar dari tenda. Tak dapat aku berkata-kata saat itu, hanya mulut yang terbuka menganga menikmati indahnya lukisan Yang Maha Kuasa di atas langit sana. Seolah setiap bintang yang membentuk rasi dapat aku jelajahi dari bawah sini. Hingga tanpa ku sadari, sayup sayup ku dengarkan,

Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars
I’m gonna give you my heart
‘Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars
‘Cause you light up the path

‘Cause you’re a sky, you’re a sky full of stars
Such a heavenly view
You’re such a heavenly view

Sebuah lagu dari Coldplay – A sky full of stars mengisi malam ku saat itu. Tak henti-hentinya mulut ku mengucap syukur nikmat untuk melihat sebuah pemandangan yang sangat membuat ku terpikat. Satu per satu teman ku keluar dari tenda, tak satu pun dari kami dapat beranjak dari tempat kami berdiri. Sesekali kau harus mencobanya kawan! Melihat cahaya bintang tanpa takut terdistorsi oleh pulusi cahaya yang telah menelan langit yang ada di kota setiap malamnya. Hingga akhirnya kami sadari bahwa waktu subuh telah datang menghampiri.

Sebagai pertanda kami harus segera menunaikan kewajiban kami beribadah pagi ini. Kemudian kami harus segera siap untuk menyambut sang mentari pagi. Kami susuri jalan yang ada di dalam hutan, seingatku jalan ini akan membawa kami menuju ke pos 2 atau lebih dikenal dengan sebutan Goberhood. Dari sana kami akan menuju ke Bukit Sunrise, di mana kami bisa mengamati langsung sang mentari yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya. Namun, untuk mencapai tempat tersebut diperlukan tenaga extra untuk berjalan melintasi jalur yang berilalang.

before sunrise

Saat itu angka pada jam tangan ku menampilkan angka 05.47, kami telah siap menanti sang mentari menunjukkan diri, walaupun saat ini hanya guratan cahaya oranye yang telah mengisi wilayah di sekitar garis cakrawala. Hawa hangat mulai terasa menyentuh kulit ini, pertanda bahwa sebentar lagi san surya akan muncul di hadapan kami. Dan benar saja, tak perlu waktu lama bagi ku untuk melihat kemilau bundarnya yang kekuningan.

bukit sunrise papandayan

Tak terasa telah 90 menit kami menikmati terbitnya matahari pagi ini, kini saatnya bagi kami untuk kembali ke pondok salada lagi. Rasanya masih ingin menikmati semua ini tapi apalah daya kami, sang waktu tak pernah mau untuk menunggu. Kami pun dengan berat hati mencoba melangkahkan kaki kembali. Perjalanan menanjak menuju ke tenda tak membuat semangat kami reda, karena waktu untuk pulang pun kini telah tiba. Kami bereskan semua perlengkapan berkemah kami, dan setelah semua peralatan telah tersusun rapi kami pun berdoa dan segera melangkah turun menuju ke camp david yang ada di bawah.

menyapa mentari

Perjalanan untuk turun terasa lebih mudah dibandingkan saat berangkat kemarin, mungkin juga karena saat itu kami telah merasa bahwa jalur yang akan dilalui sudah pernah kami ketahui. Setelah check out, maksud saya mencoret daftar kemah yang ada di pos 2, kami pun segera melanjutkan kembali perjalanan menuju ke kawah papandayan. Sungguh tidak kami duga, di sana kami berjumpa dengan rombongan lain yang telah lebih dulu berangkat meninggalkan pondok salada. Ku tanya salah satu dari mereka, ternyata ada sebuah masalah yang sedang mereka hadapi. Salah seorang teman dalam regu mereka harus mengambil tasnya yan terjatuh ke dasar jurang di sekitar kawah papandayan, karena tidak sengaja tersenggol.

Perjalanan turun papandayan

Alhasil setelah berjuang cukup keras hingga harus berseluncur di atas batu-batu akhirnya tas tersebut berhasil diambil kembali. Kami pun melanjutkan perjalanan bersama-sama menuju camp david, hingga tiba di area parkir kendaraan. Ada dua hal yang menarik perhatian ku saat mendekati area parkiran, pertama adalah toko cinderamata lokal yang menjual kalung dengan bandul berupa kayu yang diukir, dan yang kedua adalah kolam pemandian air panas alami yang ada di sekitar surau.

Tempat yang pertama ku hampiri adalah toko cinderamata, karena aku sangat penasaran dengan bandul kalung yang mereka jual. Bandul tersebut terbuat dari kayu yang mereka ukir menyerupai sehelai daun lengkap dengan tulisan “papandayan” dan yang unik adalah ada dua buah bandul yang berbeda warna. Satu bandul berwarna coklat kekuningan sedangkan satu lagi berwarna coklat kehitaman, tapi aku perhatikan warna tersebut bukan karena diwarnai oleh sang penjual. Lalu karena apa?

Karena penasaran, aku ambil bandul yang berwarna coklat kekuningan dan segera aku berkata pada sang penjual untuk menjadikannya berwarna coklat kehitaman. Ia pun menyanggupi permintaan ku, kemudian diambilnya bandul yang ku pilih dan membawanya ke luar toko yang berbentuk tenda. Diambilnya pula korek gas dari saku celananya, dan ia nyalakan di dekat bandul tersebut.

Ternyata warna hitam itu ia dapatkan dengan cara membakar bandul kayu tersebut dengan api kecil. Sedikit demi sedikit ia panasi setiap bagian permukaan bandul sehingga warna hitam kecoklatan menjadi merata di setiap permukaan bandul. Tanpa aku sadari ternyata bandul pesanan ku itu telah selesai dan aku sangat puas dengan hasilnya.

Selesai mengamati cinderamata, aku pun melanjutkan untuk melihat pemandian air panas. Namun sayang sekali, langit mulai mendung dan sepertinya tak lama lagi akan turun hujan sehingga aku tak sempat masuk dan mencoba pemandiaan air panas alami tersebut, hanya mengamati dari luarnya saja. Dan tak butuh waktu lama bagi sang hujan untuk membasahi seluruh area camp david ini, hingga kami harus berteduh di gubuk-gubuk yang ada di sekitar parkiran. Untungnya segelas teh hangat dan tahu isi yang baru saja digoreng dapat menemaniku menunggu hujan reda.

Saat menunggu hujan itulah seseorang menghampiri kelompok ku, ia menawarkan jasanya untuk mngantar kami ke jalan raya dengan mobil bak terbukanya. Kami pun tak ingin menolaknya, asalkan saat hujan reda ia setuju untuk langsung berangkat. Karena kami pun harus segera mengejar bus terakhir yang menuju jakarta tepat sebelum matahari tenggelam. Ternyata ia menyanggupi, bahkan jika nanti semua penumpang ingin menuju ke terminal guntur ia pun bersedia mengantarkan kami langsung ke terminal.

sayonara papandayan

Tepat saat hujan reda, seluruh calon penumpang diminta untuk naik ke atas mobil bak terbuka dan meletakkan barang bawaan di bagian depan bak mobil. Kami pun duduk satu per satu, dan aku kebagian di posisi buritan bak mobil. Ternyata posisi ini menempatkan ku bersebelahan dengan salah seorang penduduk lokal yang ingin menumpang hingga ke jalan raya. Sebut saja namanya Ujang.

Aku coba untuk mengajaknya bicara dan bertanya pada Ujang, apakah ada tempat lain yang bisa kami kunjungi jika sedang berada di Kota Garut, khususnya di daerah sekitar gunung ini. Ternyata ia pun menjawabnya dengan bersemangat. Ada beberapa tempat yang menarik seperti bumi perkemahan, tempat beristirahat, dan yang paling menarik adalah air terjun teko. Letaknya pun tak jauh dari camp david. Jika objek wisata lain di sekitar kota Garut ia menyebutkan, kawasan wisata darajat, pantai-pantai di Pameungpeuk, serta wisata pemndian air panas Cipanas Garut.

Tanpa terasa di tengah-tengah ceritanya, ternyata Ujang harus segera turun dan kami pun akhirnya berpamitan. Saat itu pula sang supir mobil bak menawarkan untuk mengantar kami langsung ke terminal. Kami pun menyetujui karena pikir kami hari sudah mulai sore dan kami harus segera menuju ke terminal. Namun, tak selamanya sebuah keputusan mendadak itu berbuah manis.

Baru berjalan sekitar 10 menit, tiba-tiba hujan turun kembali dan membuat semua penumpak di bak terbuka menjadi kalang kabut. Secepat mungkin kami mencoba untuk menutup bak mobil dengan terpal plastik dan setiap orang di bawah terpal berusaha untuk memeganginya agar tidak terbang ditiup angin serta mencegah agar badan dan barang bawaan kami tidak basah terkena hujan.

jalan pulang ke terminal

Hampir setengah perjalanan kami diisi dengan mengobrol di bawah terpal karena di luar terpal hujan masih turun dengan deras. Hingga saat suara kucuran air sudah mulai mereda, kami pun membuka terpal. Lucunya saat kami membuka terpal, ternyata di bagian belakang mobil kami tampak sebuah mobil SUV hitam yang berisi dua orang wanita yang masih muda. Mereka tertawa saat melihat kami membuka terpal dan mendapati bahwa di atas bak mobil di depan mereka tampak 15 orang yang sedang melipat terpal plastik.

Bukannya malu atau risih kami malah balik memperhatikan mereka sambil beberapa orang rekan semobil ku menggoda mereka dengan melambaikan tangan dari jauh. Hingga tidak terasa kami sudah hampir sampai di terminal guntur. Turun dari mobil aku pun mengajak teman ku untuk membeli oleh-oleh, karena yang aku tau tidak afdol jika pulang dari Kota Garut tapi tidak membawa oleh-oleh dodol yang merupakan kuliner khas kota ini. Dan tidak lupa aku pun membeli chocodot, apa itu chocodot? Chocodot adalah gabungan antara coklat dan dodol, unik rasanya, dan yang lebih unik lagi adalah kemasan yang produsen buat untuk membungkus chocodot ini.

Tak terasa mencari oleh-oleh ternyata membuat kami lapar, akhirnya kami pun mampir di sebuah warung makan prasmanan sunda. Enaknya makan di sini adalah cukup dengan 15 ribu rupiah kami sudah bisa makan 4 sehat, jika ingin menjadi 5 sempurna cukup menebus segelas susu hangat dengan biaya 3 ribu rupiah lagi.

Kini waktu sudah hampir petang dan kami harus segera mencari bus yang menuju ke Jakarta. Berarti pula kami harus meninggalkan kota ini, tempat yang juga sering disebut dengan Swiss van Java, karena memiliki banyak gunung di sekitarnya. Kota yang dikenal dengan dodolnya. Kota yang juga dikenal dengan pemandian air panas alaminya, kota yang menjadi salah satu kampung halaman ku.

Sampai jumpa lagi Kota Garut. Sang Swiss van Java.

Images & Informations : Koleksi Pribadi, Samsung I9500 Galaxy

Location : Jakarta, Terminal Guntur, Garut

Gunung Papandayan – Walau Terasa Sulit, Usahakan Untuk Summit! (3/4)

papandayan 3

Gunung Papandayan, Senin siang, saat kami melakukan perjalanan menuju ke sebuah tanah lapang.

Berjalan kaki sekitar 45 menit menyusuri hutan kini harus diakhiri, karena sebentar lagi kami akan tiba di sebuah tanah lapang yang sudah dipenuhi oleh beberapa tenda berwarna-warni. Pondok Salada namanya, kami sendiri belum dapat memahami kenapa tempat ini disebut dengan nama Pondok Salada, apa mungkin di sini banyak terdapat sayuran bernama selada? Entahlah, yang pasti sepanjang perjalanan menuju tempat ini kami tak henti-hentinya untuk terpana. Melihat indahnya bukit dan dataran yang kini ada jauh di bawah. Continue reading